WELCOME TO MY BLOG
Vikri Haryo Seno

Abstract

Science has been developed in order to achieve prosperity and increase Human values. Scientiest must consider integrity and ethical consequences of science. Integrated scientist should be related to developing science and technology, although morale and social responsibility of scientism can not be connected to itself, means that high level of integrity and involvement in science. Learning process not only to fulfil learning to know and learning to do, but olso learning to be, meaing that scientist should be grown up to become himself. This paper discusses philosophy of science which the scientism integrity and morale must be posses.


  1. Kemajuan Sains dan Teknologi tanpa Etika akan Menghancurkan Hidup Manusia


Manusia sebagai makhluk yang berakal budi tidak henti-hentinya mengembangkan pengetahuannya. Akibatnya teknologi berkembang sangat cepat dan tidak terbendung seperti tampak dalam teknologi persenjataan, computer informasi, kedokteran, biologi dan pangan. Kemajuan teknologi tersebut bila tidak disertai dengan nilai etika akan menghancurkan hidup manusia sendiri seperti terbukti dengan perang Irak, pemanasan global, daya tahan manusia yang semakin rendah, pemiskinan sebagian penduduk dunia, makin cepat habisnya sumber alam, rusaknya ekologi, dan ketidakadilan. Pertanyaan yang secara etis dan kritis harus diajukan adalah, apakah teknologi yang kita kembangkan sungguh demi kebahagiaan manusia secara menyeluruh? “Nilai kemanusiaan” sebagai salah satu nilai etika perlu ditaati dalam mengembangkan teknologi

Memasuki abad ke 21, berarti menapaki abad global. Akibat perkembangan tehnologi informasi dan transportasi, dunia Inteernasional pada abad ini mengalami sebuah perubahan besar, yang dikenal dengan era global. Dalam era demikian, situasi dunia menjadi amat transparan, jendela internasional, terdapat hampir disetiap rumah. Apa yang terjadi dsalah satu sudut bumi dalam waktu singkat dapat ditangkap dari beerbagai belahan dunia, pintu gerbang antar Negara semakin teerbuka, sekat sekat budaya semakin hilang dan ujung ujungnya akan terbentuk apa yang disebut JHON NEISBITT sebagai Gaya Hidup Global.


Abad ini ditandai dengan kemajuan sains dan teknologi yang sangat pesat. Kemajuan itu terutama dipacu oleh kemajuan teknologi computer dan informasi sehingga zaman ini sering disebut era revolusi baru yaitu revolusi informasi.Produk dari kemajuan sains dan teknologi kian canggih dan bermutu. Hampir dalam semua bidang kehidupan kita dapat menikmati produk teknologi modern mulai dari peralatan rumah tangga sampai dengan peralatan industri yang besar. Dengan semua kemajuan itu hidup manusia dipermudah, diperlancar, dan lebih sejahtera. Tetapi di sisi yang lain, kita melihat bahwa berbagai kemajuan tersebut juga membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia seperti lingkungan hidup yang tidak nyaman, ketidakadilan dan bahkan penghancuran kelompok manusia. Karenanya patut dipertanyakan, apakah kemajuan sains dan teknologi tersebut perlu dibatasi. Persoalan inilah yang ingin digali dalam makalah ini.


Dampak Positif dari Kemajuan Sains dan Teknologi

Dampak positif dari kemajuan sains dan teknologi sangat besar, banyak, dan kita rasakan setiap hari. Kemajuan yang paling menonjol adalah bidang teknologi informasi. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti internet, komunikasi antara manusia di dunia ini menjadi sangat cepat, tepat dan transparan. Dengan kemajuan itu semua, dunia yang tadinya terasa luas dan besar, kini terasa kecil karena jarak tidak lagi sangat menentukan. Apa yang terjadi di suatu belahan bumi akan diketahui di tempat lain sehingga hamper semua kejadian dapat diketahui dari tempat manapun. Penemuan dan kemajuan sains dan teknologi oleh para ahli di suatu negara dengan cepat dapat diketahui oleh para ahli dari negara lain sehingga hasilnya cepat dapat digunakan oleh banyak orang. Kemajuan teknologi informasi dengan jelas juga membantu proses demokrasi di dunia ini karena apapun yang terjadi dalam suatu negara tidak dapat ditutupi lagi oleh pemerintahnya. Ketidakadialan, atau sikap dictatorial pemerintah di suatu negara tidak dapat ditutupi lagi dari pengamatan negara lain karena dengan mudah diberitakan lewat internet dan peralatan telekomunikasi lain yang canggih. Dengan demikian tanggapan dari negara lain dapat masuk dengan cepat pula. Gagasan seseorang juga sulit diberangus dalam era informatika ini, karena sekali gagasan orang itu keluar dan disebarkan lewat teknologi informasi yang canggih, semua orang dapat menangkapnya. Dalam banyak hal jelas lancarnya komunikasi informasi telah membantu hidup manusia menjadi lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera.

Dengan kemajuan teknologi terutama computer yang terus berkembang talah banyak mengubah cara kerja dan gaya hidup banyak orang. Banyak hal yang dulu dikerjakan secara perlahan dan memakan waktu lama, kini bisa deprogram dan diselesaikan dengan waktu yang lebih singkat. Pekerjaan yang dulu harus diselesaikan oleh banyak orang, sekarang cukup dilakukan oleh sedikit orang saja karena dukungan system computer. Banyak pekerjaan yang dulu dilakukan oleh tangan manusia kini digantikan robot yang dapat bekerja cepat dan tanpa lelah. Sistem computer dan segala macam programnya, telah mempercepat manusia dalam memecahkan banyak persoalan. Manusia terpacu untuk berpikir cepat, memecahkan persoalan dengan cepat, temasuk dalam hubungan dengan orang lain entah sebagai pribadi atau bisnis. Semua ini jelas mengubah gagasan manusia tentang alam ini sendiri dan tentang relasi antara manusia.

Kemajuan dalam bidang teknologi komputer, akhirnya juga mendorong kemajuan teknologi di bidang yang lain, seperti kedokteran, militer, mesin industri, dan riset biologi yang juga menjadi makin canggih. Di bidang militer, kini banyak menggunakan system persenjataan yang serba otomatis dan bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan hasil yang sangat akurat. Ketepatan pengeboman atau ketepatan sasaran bidik peluru kendali, lebih bisa diprediksi.

Dalam dunia kesehatan, kita lihat juga kemajuan yang sangat besar dengan segala macam peralatan yang menggunakan sistem komputer. Ini memungkinkan semua proses pemeriksaan kesehatan menjadi lebih presisi dan akurat. Bagian terdalam tubuh manusia dapat dilihat dengan lebih jelas sehingga diagnose dokter lebih tepat dan tindakan kesehatan dapat lebih diberikan secara lebih tepat pula. Peralatan operasi yang menggunakan sinar laser dapat membantu dokter mengoperasi bagian tubuh yang lembut dan tersembunyi. Bidang farmasi pun berkembang sangat cepat. Kehadiran teknologi modern memungkinkan penemuan dan pembuatan obat dapat dilakukan dengan lebih baik dan berdaya guna. Jelas semua itu menjadikan bantuan kesehatan bagi manusia lebih baik.

Dalam bidang biologi, kemajuan sains dan teknologi dengan sangat kentara menampakkan hasil yang besar. Bioteknologi sangat berkembang, rekayasa genetik untuk mengembangkan produk pertanian dan peternakan maju pesat. Yang terakhir dengan berhasilnya percobaan cloning pada tumbuh-tumbuhan, binatang dan bagian tubuh manusia. Cloning tersebut mau tidak mau telah membantu produksi buah-buahan lebih baik, lebih besar dan dalam jumlah banyak; dan cloning bagian tubuh manusia telah membantu untuk menggantikan bagian tubuh yang telah rusak. Semua itu jelas menambah daya hidup manusia.

Dunia industri, mulai dari industri kecantikan sampai dengan industri pangan dan mesin-mesin berat, berkembang sangat pesat. Kita dapat melihat peralatan-peralatan pembangunan yang canggih dan otomatis sehingga memungkinkan orang membangun gedung-gedung tinggi dengan segala peralatan yang lengkap. Industri pangan dan industri kecantikan begitu maju sehingga kehidupan dan juga tubuh manusia terjaga dengan baik.

Kemajuan yang sama juga terjadi dalam bidang transportasi. Manusia kini menjadi makin mudah untuk pergi kemana pun dalam waktu yang lebih singkat dan nyaman. Jelas semuanya ini mempengaruhi cara keja dan kinerja manusia.

Berbagai contohdi atas, jelas menunjukkan bahwa kemajuan sains dan teknologi telah mengubah hidup manusia. Berbagai kemajuan itu telah memungkinkan manusia mampu memecahkan hamper semua persoalan mereka. Sehingga pertanyaannya kini adalah betulkah kemajuan teknologi hanya memberikan dampak positif bagi umat manusia? Tidak adakah dampak negatifnya? Apakah kemajuan sains dan teknologi perlu diberi batas, diberi arah? Bila ya, arah apa yang kiranya dapat diterima? Inilah beberapa persoalan yang perlu dijawab.


Dampak Negatif dari Kemajuan Sains dan Teknologi

Dari kenyataan yang ada, kecuali dampak positif, kemajuan sains dan teknologi juga memberikan dampak negative bagi hidup manusia. Di sini disebutkan beberapa dampak negatif yang telah muncul antara lain dalam bidang (1) informatika, (2) persenjataan, (3) biologi, (4) medis, dan (5) lingkungan hidup.

Informatika. Kemajuan teknologi komputer dan informasi, faktanya juga membuat dunia kejahatan makin canggih. Praktek-praktek pencurian melalui jaringan computer dan internet, seperti pembobolan bank, penipuan transaksi dagang via internet, bahkan pembocoran rahasia sebuah institusi atau negara, juga makin sering terjadi.

Kemajuan teknologi komputer dan informasi ini, juga memungkinkan seseorang bisa dirusak kehidupan pribadinya dengan cara penyebarluasan informasi yang tidak benar dan gambar yang direkayasa menggunakan computer dan disebarkan melalui internet. Di beberapa tempat, adanya internet ternyata juga punya dampak negatif bagi banyak orang muda yang dengan mudah mengakses situs pornografi dan informasi yang provokatif dan menghasut dari kelompok-kelompok tertentu. Dan yang terburuk, terbukanya keran informasi akibat majunya teknologi komputer dan informasi ini, membuat mereka yang tak siap menjadi bingung menyikapinya.

Persenjataan. Persenjataan yang canggih juga memiliki dampak negatif. Akibat yang ditimbulkan senjata modern dan canggih, bisa lebih menimbulakn kerusakan dan kerugian yang lebih besar atau korban yang jauh lebih banyak jumlahnya ketimbang senjata konvensional, juga karena dengan itu korban yang dibunuh dapat lebih banyak daripada perang tradisional. Senjata modern dan canggih juga bisa membuat beberapa negara merasa sangat kuat dan ingin menguasai atau memaksakan kehendak pada negara lain. Senjata modern dengan efek penghancur yang dahsyat, seperti senjata dengan uranium dan nuklir, bisa memicu persaingan dan pada tingkat tertentu juga bisa menyulut pecahnya perang. Dewasa ini bahkan banyak riset yang dilakukan untuk menciptakan senjata modern dan canggih dengan daya penghancur luar biasa. Para ahli yang melakukan riset penciptaan senjata itu, tentu juga berpikir untuk menguji senjata hasil buatan mereka. Ini jelas bisa menjadi ancaman. Dalam situasi normal dan tenang, mereka memang akan melakukan pengujian di darah aman dan tanpa penghuni. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa mereka tak pernah berkeinginan untuk menguji senjata mereka dalam kondisi sebenarnya, yakni menjadi mesin perang untuk menghancurkan suatu Negara yang dihuni jutaan manusia.

Sebenarnya kita dapat bertanya, mengapa mereka membuat persenjataan yang makin canggih? Mengapa tidak membuat peralatan yang lebih berguna bagi kesejahteraan manusia?

Biologi. Teknologi rekayasa di bidang biologi juga mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dengan teknologi ini, kalangan ahli biologi kini mampu mengembangkan apa yang disebut sebagai cloning yang bisa diterapkan pada tumbuhan, hewan, dan sangat mungkin juga pada manusia. Dengan rekayasa cloning ini, para ahli memang dapat menciptakan mahluk baru tanpa melalui pembiakan sebagaimana lazimnya. Termasuk dalam menciptakan organ manusia yang diperlukan untuk memperbaiki atau memperbarui organ yang rusak. Namun masalahnya tentu akan lain, juka praktek cloning itu dilakukan untuk menciptakan manusia baru. Keinginan untuk menciptakan manusia tanpa melalui perkawinan seperti ini, bahkan sudah memicu munculnya pro-kontra diantara para ahli yang mendukung dan yang menentangnya. Bila tidak disikapi secara kritis, praktek cloning manusia itu, bisa melahirkan dampak negatif dalam kehidupan manusia sendiri.

Dampak terburuk yang bisa terjadi bila praktek cloning manusia itu dibiarkan adalah kemungkinan hilangnya kesadaran bahwa mereka adalah mahluk ciptaan Tuhan. Kenyataan bahwa mereka bisa menciptakan segalanya dengan cloning, bisa jadi justru akan membuat mereka melupakan Sang Pencipta sendiri. Dampak lainnya adalah kemungkinan munculnya sikap superioritas perempuan yang tidak akan membutuhkan laki-laki, karena dapat mencipta manusia sendiri dari dirinya. Hal ini akan mengganggu keseimbangan relasi manusia laki-laki dan perempuan yang diciptakan Tuhan untuk saling membantu dalam suatu perkawinan. Maka tata kehidupan baru akan bergolak.

Lingkungan hidup. Dari banyak pengalaman, kerusakan lingkungan akibat pembangunan industri masih terus terjadi. Sistem pengelolaan limbah industri yang tidak ditata secara tepat dan baik, menyebabkan lingkungan bukan hanya kotor, tapi juga tercemar. Asap dari industri dan juga transportasi juga menyebabkan polusi udara yang mengakibatkan terjadinya penipisan lapisan ozon dan terjadinya pemanasan global.

Pengambilan sumber alam secara besar-besaran menggunakan perangkat berteknologi canggih, melahirkan ancaman tidak tersedianya sumber alam bagi generasi mendatang. Penebangan hutan secara besar-besaran yang dilakukan tanpa memperhitungkan akibatnya, menyebabkan terjadinya penggundulan hutan yang juga mendorong makin meningkatnya suhu udara di muka bumi ini. Pembangunan reactor nuklir di tempat yang tidak tepat dan tidak secara teliti direncanakan telah ikut merusak lingkungan dan mengancam kelangsungan hidup banyak orang.

Dari sini tampak bahwa perkembangan teknologi di bidang industri pun perlu memperhatikan pengaturan terhadap lingkungan hidup manusia. Dalam lingkungan tertentu penggunaan teknologi canggih oleh kelompok masyarakat tertentu, juga bisa berakibat kelompok masyarakat yang lain terkalahkan dalam persaingan. Lihat bagaimana penggunaan pukat harimau oleh perusahaan besar telah menyingkirkan dan mematikan nelayan-nelayan tradisional. Akibatnya penduduk tidak dapat hidup layak lagi. Maka terjadi ketidakadilan yang berakibat menyengsarakan orang kecil.

Medis. Kemajuan teknologi kedokteran sangat pesat, banyak peralatan medis yang mutakhir ditemukan. Kecuali dampak yang positif, sudah tampak bahwa peralatan yang modern itu juga membawa dampak negatif. Beberapa rumah sakit yang mempunyai peralatan itu, sering secara mudah menganjurkan pasien, termasuk yang secara ekonomi tak mampu, untuk menjalani diagnosa dengan alat itu meski sebenarnya tidak perlu. Akibatnya mereka harus membayar mahal. Bahkan ada beberapa dokter “memaksakan” tindakan operasi dengan menggunakan peralatan yang canggih, hanya demi mengembalikan investasi pembelian peralatan tersebut. Jadi tindakan yang dilakukan terhadap pasien, tidak lagi didasarkan pada pertimbangan untuk membantu pasien, tapi justru pada alatnya.

Dari beberapa contoh di atas menjadi jelas bahwa kecuali dampak positif dari kemajuan sains dan teknologi, juga terdapat banyak dampak negatifnya. Maka kiranya diperlukan suatu aturan main, suatu pembatasan, suatu arah bagi perkembangan teknologi, terutama dalam penggunaan hasil teknologi. Persoalannya adalah pembatasan seperti apa yang diperlukan bagi perkembangan sains dan teknologi? Pembatasan dan arah seperti apa yang dapat diterima oleh mayoritas umat manusia, terutama para ahli sains dan teknologi?


  1. Etika di Dunia Akademik

Dunia akademik ialah relung civitas academica. Di lingkungan ini, di Indonesia tugas pokok warganya adalah Tridharma: penerusan dan penyebarluasan iptek, pengembangan iptek, dan penerapan iptek dalam pengabdian kepada masyarakat. Dalam ketiga dharma ini, dan terutama dalam kedua dharma yang pertama, termasuk pula penerbitan karya ilmiah.

Etika yang merambah semua kegiatan inilah yang dimaksudkan dengan etika akademik, ini meliputi sikap ilmiah, tanggungjawab ilmiah dan professional, dan perilaku kolegial-profesional sebagai warga masyarakat akademik. Semuanya bertumpu pada kejujuran ilmiah (scientific honesty), perlakuan yang adil (fairness), dan keterbukaan serta penghargaan terhadap pendapat orang lain.

Dalam publikasi, tidak etis untuk melanggar HAKI dan melakukan penjiplakan. Penghargaan terhadap pendapat orang lain diwujudkan dengan menyebutkan sumbernya bila kita mengutip, mengucapkan terima kasih secara eksplisit kepada orang-orang yang telah membantu melahirkan publikasi itu, dan tidak memelintir pendapat orang lain untuk menyesuaikannya dengan kepentingan kita. Mencatut nama besar orang lain untuk “mendongkrak” prestise karya tulis kita juga sangat tidak terpuji. Demikian pula memampangkan “seabrek” acuan di bagian akhir makalah kita, padahal semua atau sebagian besar dari acuan-acuan itu tidak penad (relevant) dengan isi makalah kita. Tanggapan (renponse) atas pendapat orang lain dan tangkisan (rebuttal) atas kritik yang kita terima boleh saja sangat tajam, tetapi tidak boleh mempermalukan orang lain. Bukan orangnya yang kita kecam dan tentang pandangannya

Ilmu dapat dipandang secara internalistik, artinya dicermati dari segi kebenaran intersubjektif (konsistensi internal dan korespondensinya dengan fakta dan empiria). Ini meliputi keseksamaan peranti (devices) dan rudas (apparati) yang dipakai dalam pengamatan dan pengukuran serta ketepatan penyusunannya dalam percobaan (experimental set-up), kejelian pengamatan dan kecermatan pengukurannya, kebenaran metode percobaan dan analisis datanya serta kelogisan penarikan kesimpulannya. Ilmu juga dapat dipandang secara eksternalistik, artinya dicermati dari segi hubungannya dengan dampaknya pada unsur-unsur kebudayaan lain di luar dirinya. Ini meliputi keselarasannya dengan nilai-nilai etika dan agama serta akuntabilitas atas resiko dari kesalahannya dan kurang tepatnya penerapannya.

Tanggung jawab akademik warga civitas academica dalam mengemban tridharma meliputi kedua aspek tersebut di atas. Tanggung jawab dosen dalam dharma pendidikan dan pengajaran, misalnya tidak terbatas dalam masa berlangsungnya PBM itu saja, tetapi sampai pada akibatnya pada alumni dalam karir mereka nanti. Kalaupun pertanggungjawaban legal-yuridis tidak dapat diminta dari dosen yang dalam pengajarannya melakukan kesalahan yang berakibat negatif pada alumni rasa bertanggung jawab atau tanggung jawab moral harus ada. Inilah yang membedakan pendidikan (bildung) dari indoktrinasi, apalagi kalau indoktrinasi itu begitu keras dan/canggihnya, sehingga menjadi cuci otak (brainwashing).

Sebaiknya lembaga pendidikan tinggi mempunyai kode etik yang berlaku bagi dan dimengerti serta diterima oleh semua civitas academica. Kode etik (ethical codes of conduct) itu merupakan panduan untuk menjaga integritas civitas academica dan citra lembaganya, sehingga mendapat kepercayaan dari relasi dan rekan kerja di lembaga-lembaga lain serta dari masyarakat luas. Tak ada gunanya suatu kode etik, bahkan yang ditulis dengan aksara indah dan tinta emas pun, kalau ia hanya dijadikan pajangan belaka dan tidak berfungsi. Kode etik juga tidak akan efektif kalau tidak ada sanksi bagi pelangarnya. Demi fairness dalam menangani dugaan pelanggarannya, sebaiknya ada mekanisme untuk membentuk secara ad hoc dan tepat --- sebuah Dewan Kehormatan. Kalau diantara warga civitas academica ada yang cukup senior dalam pengalaman, bagus reputasi akademiknya, dan tidak diragukan integritas moralnya, lagi pula sangat dihormati oleh semua warga lainnya, peran Dewan Kehormatan itu dapat diserahkan kepadanya, dengan secara resmi mengangkatnya sebagai ombudsman tetap.

Sikap orang terhadap suatu ajaran (religius, filosofis, politis atau ilmiah-teoritis) terentang di antara dua kutub yang diametral atau meridional. Kutub ekstrim yang satu ialah fundamentalisme, sedangkan ekstrem yang satunya lagi ialah liberalisme. Fundamentalisme ialah paham yang dengan ketat dab kukuh meyakini kebenaran harfiah dari doktrin-doktrin atau dalil-dalil dalam suatu ajaran. Sebaliknya liberalisme adalah paham yang condong ke arah pandangan atau kebijakan yang pro reformasi dan kemajuan, sehingga bertenggang rasa (tolerant) dan tidak berprasangka (prejudiced).

Karena iptek bertumpu pada kreativitas dan kreativitas hanya dapat berkembang dalam suasana kebebasan dan keterbukaan, maka sikap etis civitas academica sebaiknya liberal, namun tidak sampai terperosok ke dalam liberalisme. Justru karena liberal, maka kita bebas dari liberalisme. “Menjadi liberal yang sejati”, menurut teologiwan Karl Barth, “berarti dan berbicara dalam tanggung jawab dan keterbukaan di semua sisi dan dengan apa yang dapat saya sebut keugaharian pribadi yang total”.

Bersikap ugahari (modest) berarti menyadari bahwa apa yang kita pikirkan dan katakan ada batas-batasnya. Kesadaran akan adanya batas ini tidak menghalangi kita untuk dengan tegas mengatakan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita ketahui, namun tanpa beranggapan bahwa kita harus senantiasa benar. Dengan kata lain kita terbuka terhadap kritik orang lain, bersedia merevisi pandangan kita, dan bahkan merombaknya habis-habisan bila perlu, jika argument rasional dan/atau bukti-bukti empiris yang disodorkan para pengecam kita ternyata memang telah memfalsifikasi pandangan kita. Memiliki keugaharian ilmiah (scientific modesty) berarti tidak sok berpretensi seolah-olah kita adalah orang yang paling pintar dan merupakan sumber kebenaran. Ini selaras dengan “purata kencana” (the golden mean), asas yang disarankan dalam etika Kebajikan (virtue ethics). “Jalan Tengah” (the middleWay) dalam Budhisme juga menganjurkan hal yang sama.

Etika dalam Iptek

Telah dikatakan tadi bahwa dunia akademik ialah relungnya civitas academica yang mengemban tugas menyebarluaskan, mengembangkan dan mengabdikan iptek. Maka etika di dunia akademik juga etika dalam iptek. Kalau di bagian ini Etika dalam Iptek dibicarakan tersendiri, itu karena pembicaraan dalam Etika di dunia akademik baru dipumpunkan pada dharma yang pertama dari tridharma, yakni pendidikan dan pengajaran untuk mentransmisikan iptek. Jadi di bagian ini pumpun pembicaraan kita pada etika dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Secara umum, etika menuntut kejujuran dan dalam iptek ini berarti kejujuran ilmiah (scientific honesty). Mengubah, menambah, dan mengurangi data demi kepentingan tertentu termasuk dalam ketidakjujuran ilmiah. Mengubah dan menambah data dengan rekaan sendiri dapat dimaksudkan agar kurvanya memperlihatkan kecenderungan yang diinginkan. Mungkin penelitinya sendiri yang menginginkan agar hasil penelitiannya sesuai dengan teori yang sudah mapan. Mungkin penaja (sponsor) peneliti itu yang ingin menonjolkan citra produk industrinya. Mereka-reka data semacam itu merupakan the sin of commission. Sebaliknya membuang sebagian data yang “memperburuk” hasil penelitian adalah the sin commission. Penghapusan data yagn “jelek” itu mungkin dimaksudkan oleh penelitinya agar analisis datanya memperlihatkan keterandalan (realibility) yang lebih baik. Lebih jahat lagi kalau dosa komisi itu dilakukan untuk menyembunyikan efek samping yang negatif dari produk yang diteliti. Ketidakjujuran ilmiah semacam ini pernah dilakukan peneliti yang ditaja pabrik penyedap rasa (monosodium glutamate) di Thailand.

Kalau data yang dibuang itu dinilai sebagai penyimpangan dari kelompok yang sedang diteliti, dan karenanya harus ikut diolah, kejujuran ilmiah menuntut penjelasan tentang penghapusannya. Perlu juga disebutkan patokan yang dipakai untuk menentukan ambang nilai data yang harus ikut dianalisis, misalnya patokan Chauvenet.

Sekarang umat manusia menghadapi masalah-masalah yang sangat serius, yang menyangkut teknologi dan dampaknya pada lingkungan. Kenyataan ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang etika:

  1. Norma-norma etika (dan agama) yang seperti apakah yang harus kita patuhi dalam penelitian di bidang bioteknologi, fisika nuklir dan zarah keunsuran, serta astronomi dan astrofisika?

  2. Dalam penelitian kedokteran dan genetika, apakah arti kehidupan?

  3. Dalam penelitian dampak teknologi terhadap lingkungan, bagaimana seharusnya hubungan manusia dengan alam, baik yang nirnyawa(the inanimate world) maupun yang bernyawa.

  4. Apakah masyarakat yang baik itu, dan dapatkah dikembangkan pengertian yang universal tentang kebaikan bersama yang melampaui individualisme, nasionalisme, dan bahkan antroposentrisme?


Dalam bioteknologi (termasuk rekayasa genetika) dan kedokteran, pertanyaan tentang arti, mulai dan berakhirnya kehidupan sangat penad (relevant). Apakah orang yang berada dalam keadaan koma dan fungsi faal serta metabolismenya harus dipertahankan dengan alat-alat kedokteran elektronik dalam jangka panjang yang tidak tertentu masih mempunyai kehidupan yang berarti ? Tak bolehkah ia minta (misalnya sebelum terlelap dalam keadaan seperti itu), atau diberi, euthanasia berdasarkan informed consent dari keluarganya yang paling dekat? Ini mengacu ke arti dan berakhirnya kehidupan. Mulainya kehidupan, penting untuk diketahui atau ditetapkan (dengan pertimbangan ilmu dan agama) untuk menentukan etis dan tidaknya menstrual regulation (“MR”) dan aborsi, terutama dalam hal indikasi medis dari risiko bagi ovum yang telah dibuahi dan terlebih-lebih lagi bagi ibunya, kurang meyakinkan.

Bioteknologi/rekayasa genetika mungkin hanya boleh dianggap etis jika tingkat kegagalannya yang mematikan embrio relative rendah dan – bila menyangkut manusia – hanya mengarah ke eugenika negatif. Tanaman dan organisme harus disikapi dengan hati-hati, baik dari segi perkembangan jangka panjangnya yang secara antropo sentries mungkin membahayakan kehidupan kita, maupun dari segi pengaturannya dalam tata hukum dan ekonomi internasional yang biasanya lebih menguntungkan negara-negara maju. Etiskah untuk mematenkan organisme dan tanaman yang telah diubah secara genetic (genetically modified)? Adilkah itu dan apakah itu tidak mengancam kelestarian plasma nutfah? Keadilan yang dimaksudkan di sini adalah keadilan agihan (distributive justice). Pengagihannya bukan hanya secara spatial, tetapi juga secara temporal. Dimensi spatiotemporal dari keadilan distributive ini tersirat dalam pengertian tentang “pembangunan yang terlanjutkan” (sustainable development) menurut Gro Harlem Brundtland.


SIKAP ILMIAH YANG HARUS DIMILIKI ILMUAN

Ilmu bukanlah merupakan pengetahuan yang dating demikian saja sebagai barang yang sudah jadidan dating dari dunia hayal. Akan tetapi ilmu merupakan suatu cara berfikir yang demikian dalam tentang sesuatu obyek yang khas dengan pendekatan yang khas pula sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang ilmiah. Ilmiah dalam arti bahwa system dan struktur ilmu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka. Disebabkan oleh karena itu pula itu pula ia terbuka untuk diuji oleh siapapun.

Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang di dalam dirinya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, obyektif, dan terbuka. Hal ini merupakan suatu keharusan bagi seorang ilmuwan untuk melakukannya. Namun selain itu juga masalah mendasar yang dihadapiilmuwan untuk melakukannnya. Namun selain itu juga masalah mendasar yang dihadapi ilmuwan setelah ia membangun suatu bangunan yang kokoh kuat adalah masalah kegunaan ilmu bagi kehidupan manusia. Memang tak dapat disangkal bahwa ilmu telah membawa manusia ke arah perubahan yang cukup besar. Akan tetapi dapatkah ilmu yang kokoh, kuat dan mendasar itu menjadi penyelamat manusia bukan sebaliknya. Disinilah letak tanggung jawab seorang ilmuwan, masalah moral dan akhlak amat diperlukan.

Manusia sebagai makhluk Tuhan berada bersama-sama dengan alam dan berada di dalam alam itu. Manusia akan menemukan pribadinya dan membudayakan dirinya bilamana manusia hidup dalam hubungannya dengan alamnya. Manusia yang merupakan bagian dalam tidak hanya merupakan bagian yang terlepas darinya. Manusia senantiasa berintegrasi dengan alamnya. Sesuai dengan martabatnya maka manusia yang merupakan bagian dalam harus senantiasa merupakan pusat dari alam itu. Dengan demikian, tampaklah bahwa diantara manusia dengan alam ada hubungan yagn bersifat keharusan dan mutlak. Oleh sebab itulah, maka manusia harus senantiasa menjaga kelestarian alam dalam keseimbangannya yang bersifat mutlak pula. Kewajiban ini merupakan kewajiban moral tidak saja sebagai manusia biasa lebih-lebih seorang ilmuwan dengan senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam yang juga bersifat mutlak.

Para ilmuwan sebagi orang yang professional dalam bidang keilmuan sudah barang tentu perlu memiliki visi moral yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral ialah di dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah (Abbas Hamami M, dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 1996).

Sikap ilmiah harus dimiliki oleh setiap ilmuwan. Hal ini disebabkan oleh karena sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai suatu pengetahuan ilmiah yang bersifat obyektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tentang tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosila untuk melestarikan dan kelestarian alam semesta ini, serta dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Artinya selaras dengan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan.

Sikap ilmiah yang perlu dimiliki para ilmuwan menurut Abbas Hamami M, (1996) sedikitnya ada enam, yaitu:

  1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), artinya suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang obyektif dengan menghilangkan pamrih atau kesenangan pribadi.

  2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap pelbagai hal yang dihadapi. Misalnya hipotesis yang beragam, metodologi yang masing-masing menunjukkan kekuatannya masing-masing, atau cara penyimpulan yang satu cukup berbeda walaupun masing-masing menunjukkan akurasinya.

  3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indera serta budi (mind).

  4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti (conviction) bahan setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.

  5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset, dan riset sebagai aktivitas yang menonjol dalam hidupnya.

  6. Seorang ilmuwan harus memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia, lebih khusus untuk pembangunan bangsa dan negara.


Norma-norma umum bagi etika keilmuan sebagaimana yang dipaparkan secara normative tersebut berlaku bagi semua ilmuwan. Hal ini karena pada dasarnya seorang ilmuwan tidak boleh terpengaruh oleh system budaya, system politik, system tradisi, atau apa saja yang hendak menyimpangkan tujuan ilmu. Tujuan ilmu yang dimaksud adalah obyektivitas yang berlaku secara universal dan komunal.

Di samping sikap ilmiah berlaku secara umum tersebut, pada kenyataannya masih ada etika keilmuan yang secara spesifik berlaku bagi kelompok-kelompok ilmuwan tertentu. Misalnya etika kedokteran, etika bisnis, etika politisi, serta etika-etika profesi lainnya yang secara normatif berlaku dan dipatuhi oleh kelompoknya itu. Taat asas dan kepatuhan terhadap norma-norma etis yang berlaku bagi para ilmuwan diharapkan akan menghilangkan kegelisahan serta ketakutan manusia terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Bahkan diharapkan manusia akan semakin percaya pada ilmu yang membawanya pada suatu keadaan yang membahagiakan dirinya sebagai manusia. Hal ini sudah barang tentu juga pada diri para ilmuwan tidak ada sikap lain kecuali pencapaian obyektivitas dan demi kemajuan ilmu untuk kemanusiaan.


KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

  1. Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Masalah moral adalah mengacu pada perbuatan manusia sebagai manusia, sehingga norma moral adalah norma yang paling berbobot dibanding dengan norma-norma yang lain, karena norma moral sering dipakai untuk mengukur baik-buruknya manusia sebagai manusia.

  2. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Sehingga cirri dari pengetahua ilmiah adalah empiris, sistematis, obyektif, analitis, dan verifikatif.

  3. Sebagai pertanggungjawaban moral dan social seorang ilmuwan harus memiliki sikap-sikap ilmiah yaitu tidak ada rasa pamrih karena pengetahuan ilmiah harus obyektif, bersikap selektif, adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indra dan budinya, adanya dorongan dari dalam diri untuk selalu melakukan kegiatan riset, dan harus memiliki sikap etis yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia.

  4. Tanggung jawab etis merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu. Oleh karena itu suatu keharusan para ilmuwan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggung jawab pada kepentingan umum, kepentingan generasi mendatang, dan bersifat universal, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.


SARAN-SARAN

  1. Etika keilmuan merupakan suatu yang sudah cukup mendesak untuk disebar luaskan kepada para ilmuwan agar dalam perkembangan ilmu tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak diharapkan oleh manusia itu sendiri. Para ilmuwan yang taat asas dan patuh pada norma-norma keilmuan saja belum cukup melainkan ilmuwan harus dilapisi oleh moral dan akhlak, baik moral umum yang dianut oleh masyarakat atau bangsanya maupun moral religi yang dianutnya. Hal tersebut dimaksudkan agar jangan sampai terjadi hal-hal yang menyimpang yang akibatnya menyengsarakan umat manusia.

  2. Di dalam perkembangan pembangunan bangsa Indonesia, moral Pancasila seyogyanya dipertimbangkan sebagai landasan moral bagi para ilmuwan Indonesia. Hal ini disebabkan oleh karena ilmuwan Indonesia itu mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk membangun bangsa dan negara.

Tulisan ini dipersembahkan kepada PARA Ilmuan dalam dunia Akademik semoga bermanfaat dalam melaksanakan tugas sebagai dosen di Kampus dan tdak lupa pula tulisan ini ditujukan bagi PKB/PLKB yang ingin mempersiapkan diri dan ingin mengembangkan diri dalam dunia akademik . Selamat belajar.


Sumber : http://lip4.bkkbn.go.id/file.php/1/moddata/forum/1/45/INTEGRITAS_DAN_ETIKA_ILMUAN_TERHADAP_IPTEK.doc


Label:
Reaksi : 
1 Response
  1. Di samping sikap ilmiah, pada kenyataannya masih ada etika keilmuan yang secara spesifik berlaku bagi kelompok-kelompok ilmuwan tertentu. Misalnya etika kedokteran, etika bisnis, etika politisi, serta etika-etika profesi lainnya yang secara normatif berlaku dan dipatuhi oleh kelompoknya itu.
    ebagai pertanggungjawaban moral dan social seorang ilmuwan harus memiliki sikap-sikap ilmiah yaitu tidak ada rasa pamrih karena pengetahuan ilmiah harus obyektif, bersikap selektif, adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat indra dan budinya, adanya dorongan dari dalam diri untuk selalu melakukan kegiatan riset, dan harus memiliki sikap etis yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia..


Poskan Komentar